MIN 1 Pohuwato Hadiri Bedah Buku Berjalan atau Diperjalankan, Jejak Pengabdian Prof Kaswad
POHUWATO (min1pohuwato.sch.id) – Civitas Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Pohuwato menghadiri kegiatan bedah buku autobiografi berjudul “Berjalan atau Diperjalankan” karya Prof. (HC), Dr. KH. Kaswad Sartono, M.Ag., yang digelar di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pohuwato, Selasa (18/08/2026).
Kegiatan tersebut diikuti oleh para kepala seksi dan penyelenggara di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pohuwato, kepala madrasah negeri dan swasta, serta para kepala Kantor Urusan Agama (KUA) se-Kabupaten Pohuwato.
Buku “Berjalan atau Diperjalankan” merupakan karya memoar yang merekam perjalanan kehidupan, pendidikan, pengabdian, hingga kiprah kepemimpinan Prof. Kaswad Sartono. Ia dikenal sebagai akademisi UIN Alauddin Makassar, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Makassar, serta birokrat yang pernah mengemban amanah sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Gorontalo.
Gaya penulisan yang mengalir dan reflektif membuat buku tersebut tidak hanya menghadirkan kisah seorang tokoh, tetapi juga menawarkan pembelajaran tentang arti pengabdian, keteguhan dalam menjalankan amanah, serta pentingnya menempatkan kepentingan institusi di atas kepentingan pribadi.
Pengalaman saat mengemban amanah di Kanwil Kementerian Agama Provinsi Gorontalo juga menjadi bagian penting dalam perjalanan yang dituturkan. Berbagai pengalaman tersebut disajikan tidak hanya sebagai catatan kronologis perjalanan hidup, tetapi diperkaya dengan perenungan spiritual, puisi, serta pesan-pesan moral yang memberikan makna pada setiap fase pengabdian.
Kepala MIN 1 Pohuwato, Sriasrawaty Ahmad, mengapresiasi pelaksanaan bedah buku tersebut. Menurutnya, kegiatan literasi seperti ini memiliki nilai penting bagi dunia pendidikan karena dapat mempertemukan pengalaman, gagasan, dan keteladanan seorang tokoh dengan kebutuhan generasi pendidik saat ini.
“Kegiatan bedah buku autobiografi seperti ini sangat positif dalam mendukung budaya literasi di lingkungan pendidikan. Dari sebuah karya tulis, kita tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga dapat belajar dari pengalaman, perjuangan, dan nilai-nilai keteladanan yang telah dilalui oleh seorang tokoh,” ujar Sriasrawaty.
Ia menilai, kisah perjalanan hidup yang dituangkan dalam sebuah buku dapat menjadi sumber inspirasi bagi guru maupun peserta didik untuk berani berkarya dan mendokumentasikan gagasan serta pengalaman mereka dalam bentuk tulisan.
“Kami berharap pengalaman dan keteladanan yang dituangkan dalam buku ini dapat menjadi motivasi bagi warga madrasah, baik guru maupun peserta didik, untuk terus membaca, menulis, dan menghasilkan karya. Literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi juga bagaimana kita mampu melahirkan gagasan dan karya yang memberikan manfaat bagi orang lain,” tambahnya.
Sriasrawaty juga menekankan pentingnya menjadikan karya tulis sebagai bagian dari pengembangan budaya akademik di madrasah. Menurutnya, semakin banyak warga madrasah yang aktif menulis, semakin luas pula pengetahuan dan pengalaman yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Kami ingin mendorong warga madrasah agar tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga menjadi penulis dan pencipta karya. Setiap pengalaman, gagasan, dan pembelajaran yang baik dapat menjadi sesuatu yang bernilai ketika dituangkan dalam sebuah karya,” tuturnya.
Menurutnya, perjalanan Prof. Kaswad Sartono sebagaimana tergambar dalam “Berjalan atau Diperjalankan” memberikan pesan bahwa setiap amanah memiliki proses dan pembelajaran tersendiri. Pengabdian, ketekunan, dan kecintaan terhadap institusi menjadi nilai yang relevan untuk terus ditanamkan kepada insan pendidikan. (AR@Z)


0 Komentar